Balinese Cremation Ceremony by Iris

 

Balinese Cremation Ceremony: Nagben. The Balinese believe that each individual soul is reincarnated into many lifetimes, through numerous struggles and stages, until it achieves union with the divine. It is the duty of every Balinese Hindu to have children, in order to provide a vessel for the spirits of their ancestors to be reincarnated. A man does not become a full member of his Banjar (village council) until becomes a father.

 

Ngaben atau upacara pembakaran mayat adalah suatu penampilan ritual untuk mengirim jiwa seseorang yang sudah meninggal ke alam yang lebih tinggi hingga seseorang tersebut mendapatkan kembali hidupnya. Kulkul desa, akan dibunyikan untuk mengiringi keberangkatan jiwa oranyang meninggal tersebut ke alam yang lebih tinggi. Jenasah akan ditempatkan di bale delod, sebagaimana pada saat orang tersebut masih hidup dan hanya tertidur, dan keluarga dari orang yang meninggal tersebut akan merawatnya, sebagaimana pada saat orang tersebut masih hidup. Tidak ada kesedihan yang terlihat, untuk mereka, orang yang meninggal ini hanya untuk sementara dan dia akan lahir kembali ke dalam keluarga (reinkarnasi).


Pemuka agama akan menentukan dewasa guna menentukan hari yang tepat untuk melaksanakan upacara pembakaran mayat tersebut. Pada hari yang telah ditentukan, jenasah akan dibalut dengan kain kafan, kemudian ditempatkan di dalam lembu atau dalam suatu tempat berstruktur pura yang dinamakan wadah terbuat dari kertas dan kayu yang ringan. Wadah akan digotong ke wilayah pembakaran untuk diproses lebih lanjut.

Klimaks dari upacara ngaben ini adalah pembakaran wadah, mempergunakan api suci. Jiwa dari jenasah tersebut telah terkirim ke alam yang lebih tinggi untuk lanjutnya bereinkarnasi di masa yang akan datang.


Balinese Cremation Ceremony

Balinese Cremation Ceremony. Ngaben or the Cremation Ceremony is the ritual performed to send the dead through the transition to his next life. The village Kul Kul, hanging in the tower of the village temple, will sound a certain beat to announce the departure of the deceased. The body of the deceased will be placed at Bale Delod, as if he were sleeping, and the family will continue to treat him as if he were still alive yet sleeping. No tears are shed, for he is only gone temporarily and he will reincarnate into the family.


The Priest consults the Dewasa to determine the proper day for the ceremony. On the day of the ceremony, the body of the deceased is placed inside a coffin which is then placed inside a sarcophagus in the form of a buffalo (called Lembu) or a temple structure called Wadah made of paper and light wood. The Wadah will be carried to the village cremation site in a procession.


The climax of Ngaben is the burning of the Wadah, using fire originating from a holy source. The deceased is sent to his afterlife, to be reincarnated in the future.

To visit Balinese Puppet Show, please click here

To leave Balinese Cremation Ceremony page and return to the main page, please click here